Banyak “Tab” yang Terbuka di Kepala

Written by

in

Jadi perempuan yang full-time di rumah itu sulit produktif sebenarnya belum tentu karena otaknya kosong. Bisa jadi karena banyak “tab” yang terbuka di otaknya. Isi kepalanya penuh dengan pekerjaan yang belum selesai.

Ada anak yang belum mandi.
Masakan yang belum siap.
Di bagian laundry, cucian baju belum tersentuh.
Baju bersih belum dilipat dan disetrika.
Cucian piring kotor menumpuk.
Lantai pun belum disapu.
Belum lagi pikiran-pikiran kecil yang ikut lewat memenuhi isi kepala. Misalnya overthinking dari hal-hal yang belum tentu benar, rasa lelah, support sistem yang terasa jauh, dan hal lainnya yang bahkan sulit untuk dijelaskan.

Boro-boro bisa duduk diam bikin naskah, background process di dalam kepala aja segitu banyak. Hahaha.. Ini butuhnya me-time. Biar otak dapat ruang sunyi, biar nggak saling dorong sama pikiran lain. Saat kepala belum sanggup menuangkan ide naskah, membaca bisa jadi nutrisi yang tepat untuk pemantik ide kreatif. Meluangkan satu waktu tanpa bising di dalam kepala, sepertinya akan banyak membantu. Apalagi ditemani secangkir teh hangat dan camilan favorit. Waah… perpaduan yang pas.

 

Sebab sering kali, manusia bukan hanya lelah secara fisik, tetapi juga emosional. Ada banyak hal yang terlihat kecil di luar, tapi diam-diam memenuhi isi kepala dan memengaruhi cara seseorang memandang hidup

Nggak cuma itu, mencari relasi atau teman ngobrol juga bisa jadi pertimbangan. Dari cerita dan pengalaman orang lain, kita sering belajar memahami hidup dengan cara yang berbeda. Tanpa kita sadari, hal itu juga membantu kita meningkatkan kapasitas diri.

Kita sebenarnya memiliki kemampuan untuk memberi makna baru pada pengalaman, baik itu pengalaman baik maupun  pengalaman buruk. Bahkan dari luka pun kita bisa memahami apa yang sebenarnya terjadi dalam diri, bukan dengan berpura-pura kuat. Dari sana, rasa sakit nggak lagi cuma menjadi penderitaan, melainkan bagian dari proses mengenal diri dengan lebih jujur.

Mungkin karena itu, kebahagiaan yang paling tenang bukan datang dari hidup tanpa luka, tapi dari kemampuan menerima bahwa nggak semua hal harus berjalan sempurna untuk tetap terasa berarti.

Ya.. begitulah menjadi dewasa.. Kadang sering terlihat diam, padahal isi kepalanya sedang ribut.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *